Pages

Jumat, 01 Februari 2013

CARA MEMBACA ALQUR’AN DENGAN BAIK DAN BENAR! (ridwan-20)


CARA MEMBACA ALQUR’AN DENGAN BAIK DAN BENAR!

.
CARA TEPAT MEMBACA AL-QUR'AN BESERTA TAFSIRNYA!
CARA TEPAT MEMBACA AL-QUR’AN BESERTA TAFSIRNYA!
LAFADZ ALLAH PADA SEBUAH POHON!
LAFADZ ALLAH PADA SEBUAH POHON!
By: Websitedada! 
Wahai para pembaca yang budiman yang Insya Allah bakalan selalu dirahmati oleh Allah ta’ala sang Tuhan semesta ‘alam, janganlah sekali kamu membaca Al-Qur’an tanpa memahami dahulu maksud setiap surah-surah and ayaat-ayaatnya!
Berikut ini, akan aku terangkan dan akan aku jelaskan dari sebagian ayaat-ayaat yang terdapat didalam kitab suci Al-Qur’an yang karim!
Selamat membaca dan merenungkan!
.
.
PAHAMILAH SETIAP AYAAT DEMI AYAAT!

.

LAFADZ ALLAH TA'ALA PADA JARI TELUNJUK TANGAN MANUSIA!
LAFADZ ALLAH TA’ALA PADA JARI TELUNJUK TANGAN MANUSIA!
KA'BAH!
KA’BAH!
Sesungguhnya menafsirkan satu ayaat Al-Qur’an dengan ayaat Alqur’an yang lain, adalah jenis penafsiran yang paling tinggi. Karena ada sebagian ayaat Al-Qur’an itu yang menafsirkan (membaca dan menerangkan) makna ayaat-ayaat yang lain.
Contohnya ayaat!: 
Allah Ta’ala berfirman: “Ketahuilah, sesungguhnya para auliya’ Allah (Para Waliyullah) itu tidak pernah merasa cemas dan tidak pula merasa bersedih hati!”. (Qs Yunus: 62).
Lafadz Auliya’ (Para waliyullah), diterangkan atau ditafsirkan dengan ayaat berikutnya yang artinya: “Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa!”. (Qs Yunus : 63).
Berdasarkan ayaat di atas maka setiap orang yang benar-benar mentaati perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya, maka mereka itu adalah para Auliya’ Allah (Para waliyullah). 
Tafsiran ini sekaligus sebagai bantahan orang-orang yang mempunyai anggapan, bahwa waliyullah itu ialah orang yang mengetahui perkara-perkara yang ghaib, memiliki kesaktian, di atas kuburnya terdapat bangunan kubah yang megah, atau keyakinan-keyakinan bathil yang lain.
Dalam hal ini, karamah bukan sebagai syarat untuk membuktikan orang itu waliyullah atau bukan waliyullah. Karena Karamah itu bisa saja tampak namun bisa pula tidak tampak.
Adapun hal-hal aneh yang ada pada diri sebagian orang-orang ahlul bid’ah, adalah sihir, seperti yang sering terjadi pula pada orang-orang Majusi dan orang-orang Hindu di India dan kafir-kafir yang lainnya.
Itu sama sekali bukanlah karamah, tetapi itu adalah sihir seperti yang telah difirmankan oleh Allah Ta’ala yang maha sallam: “Terbayang kepada Musa, seolah-olah dia merayap cepat lantaran sihir mereka!”. (Qs Thaha: 66).
.
.
JIKALAU KAU AKAN MEMAHAMI ALQUR’AN YANG KARIM, MAKA PAHAMILAH PULA HADITS SHAHIHNYA! 
.

MUHAMMAD SAW!
MUHAMMAD SAW!
MADINAH!
MADINAH!
Untuk menafsirkan ayaat Alqur’an (Ayat Alqur’an) dengan hadits shahih sangatlah urgen, bahkan harus. 
Allah ta’ala menurunkan Alqur’an yang karim kepada Nabi Muhammad Rasulullah Saw, tidak lain supaya diterangkan maksudnya kepada semua manusia.
Allah yang maha Hakiim telah berfirman:
“…Dan Kami turunkan Alqur’an kepadamu (Muhammad) supaya kamu menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka agar mereka pikirkan!”. (Qs An-Nahl: 44).
Nabi Muhammad Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam bersabda: “Ketahuilah, aku sungguh telah diberi Alqur’an dan yang seperti Qur’an bersama-sama!”. (Hadits Riwayat Abu Dawud).
Berikut contoh-contoh tafsir ayaat dan hadits:
Ayaat yang artinya: “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (Jannah) dan tambahannya.” (Qs Yunus: 26).
Tambahan di sini menurut keterangan Rasulullah Saw, ialah berupa kenikmatan melihat Allah.
Nabi Muhammad Rasulullah Shalallahu Alihi Wa ‘Alaihi Was Sallam bersabda: “Lantas tirai itu terbuka sehingga mereka dapat melihat Tuhan-nya, itu lebih mereka sukai daripada apa-apa yang diberikan kepada mereka.”, Kemudian beliau Saw membacakan ayaat ini: “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (Jannah) dan tambahannya.” (HR. Muslim).
Ketika turun ayaat Qur’an yang artinya: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur-adukan iman mereka dengan kezhaliman…..”. (Qs Al-An’am: 82).
Menurut Abdullah bin Mas’ud, para shahabat merasa keberatan karenanya. Lantas mereka pun bertanya: “Siapakah di antara kami yang tidak menzhalimi dirinya sendiri, wahai Rasulullah?…”, Beliau Saw menjawab: “Bukan itu maksudnya. Tetapi yang dimaksud kezhaliman di ayaat itu adalah syirik. Tidakkah kalian mendengar ucapan Luqman kepada putra nya yang berbunyi: ‘Wahai anak ku, janganlah engkau menyekutukan Allah. Karena perbuatan Syirik (menyekutukan Allah) itu sungguh suatu kezhaliman yang sangatlah besar!”. (Hadits Riwayat Muslim).
Dari ayaat dan hadits itu dapat dipetik kesimpulan: Kezhaliman itu urutannya bertingkat-tingkat. Perbuatan maksiat itu tidak disebut syirik. Orang yang tidak menyekutukan Allah, mendapat keamanan dan petunjuk. 
.
.
SELAIN ITU, PAHAMILAH AYAAT-AYAAT ALQUR’AN MENURUT PEMAHAMAN PARA SHAHABAT RASULULLAH SAW! 
.

MUJAHIDAH!
MUJAHIDAH!
TENTARA ALLAH TA'ALA!
TENTARA ALLAH TA’ALA!
Merujuk kepada penafsiran para shahabat Rasulullah SAW terhadap ayaat-ayaat Qur’an seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud sangatlah penting untuk mengetahui maksud suatu ayaat. Karena, di samping senantiasa menyertai Nabi Muhammad Rasulullah Saw, mereka juga belajar langsung dari beliau Saw.
Berikut ini beberapa contoh tafsir dengan ucapan shahabat Rasulullah Saw tentang ayaat Alqur’an yang artinya: “Yaitu Tuhan yang Maha Pemurah yang bersemayam di atas ‘arsy.”. (Qs Thaha: 5).
Al-Hafiz Ibnu Hajar di dalam Kitab Fathul Baari berkata: “Menurut Ibnu Abbas dan para ahli tafsir lain, istawa’ itu maknanya irtafa’a (naik atau meninggi)”. 
.
.
PAHAMILAH DAHULU GRAMATIKA BAHASA ARAB AGAR DAPAT MENGARTIKAN MAKSUD-MAKSUD DIDALAM AYAAT-AYAAT ALQUR’AN YANG KARIM! 
.

QUR'AN!
QUR’AN!
KITAB HADITS!
KITAB HADITS!
Tidak diragukan lagi, untuk bisa memahami dan menafsirkan ayaat-ayaat Alqur’an yang karim, mengetahui gramatika bahasa Arab sangatlah urgen. Karena kitab suci Alqur’an diturunkan didalam bahasa Arab.
Allah Swt berfirman: “Sungguh Kami turunkan Alqur’an dengan bahasa Arab supaya kamu memahaminya!” (Qs Yusuf: 2).
Tanpa mengetahui bahasa Arab, maka kita takkan mungkin bisa memahami makna dari ayaat-ayaat Alqur’an yang sebenar-benarnya.
- Sebagai contoh ayaat!: 
“Tsummas tawaa ilas samaa’i”. Makna istawaa’ ini banyak diperselisihkan. Kaum Mu’tazilah mengartikannya ‘menguasai dengan paksa’. Ini jelas penafsiran yang salah. Tidak sesuai dengan bahasa Arab. Yang benar, menurut pendapat para ahlul sunnah waljamaah, istawaa’ artinya adalah ‘ala wa irtafa’a (meninggi dan naik).’ Karena Allah mensifati dirinya dengan Al-’Ali (Yang Maha ‘Ali (Paling tinggi atau paling atas)).
Anehnya, banyak orang penganut faham Mu’tazilah yang menafsirkan lafadz istawa’ dengan istaula. Pemaknaan seperti ini banyak tersebar di dalam kitab-kitab tafsir, tauhid, dan ucapan-ucapan orang.
Mereka jelas mengingkari kemahatinggian Allah yang jelas-jelas tercantum didalam ayaat-ayaat Al-Qur’an; dan hadits-hadits shahih; dan perkataan para shahabat Rasulullah Saw dan para tabi’in, Mereka mengingkari bahasa Arab yang mana Alqur’an diturunkan dengan bahasa itu (Yakni bahasa Arab).
Ibnu Qayyim berkata: “Allah memerintahkan orang-orang Yahudi supaya mengucapkan ‘Hitthotun! (Bebaskan kami dari dosa!)’, tapi mereka pelesetkan atau rubah menjadi ‘Hinthotun (Biji gandum)!’. Ini sama dengan kaum Mu’tazilah yang mengartikan istawa dengan arti istaula!”. 
- Contoh kedua!: 
Pentingnya Bahasa Arab dalam menafsirkan suatu ayaat, misalnya ayaat yang artinya:
Allah Ta’ala berfirman: “Maka ketahuilah, bahwa tidak ada ilah (Tuhan) (yang haq) melainkan Allah…!”. (Qs Muhammad: 19).
Ilah artinya al-ma’bud (yang disembah). Maka kalimah ‘Laa ilaaha illallaah’, artinya ‘Laa ma’buuda illallaah (tidak ada yang patut disembah kecuali Allah saja)’.
Sesuatu yang disembah selain Allah itu banyak; Ummat Hindu di India menyembah sapi; ummat Kristiani menyembah Isa Almasih AS bin Maryam AS (Yesus Kristus). Padahal, dengan tegas Nabi Muhammad Rasulullah Saw bersabda: “Doa itu ibadah”. (Hadits Riwayat At-Tirmidzi).
Nah, karena sesuatu yang dijadikan sesembahan oleh manusia itu amat banyak macamnya, maka dalam menafsirkan ayaat di atas mesti ditambah dengan kata haq (Yang benar) sehingga maknanya menjadi ‘Laa ma’buuda haqqon illallaah (tidak ada sesembahan yang Haq (Benar) kecuali Allah Ta’ala)’.
Dengan begitu, semua sesembahan-sesembahan yang bathil yakni selain Allah Ta’ala, keluar atau tidak masuk dalam kalimat tersebut.
Dalilnya ialah ayaat berikut, yang artinya: “Demikianlah, karena sesungguhnya Allah. Dialah yang haq (Yang benar). Dan sesungguhnya apa saja yang mereka seru selain Allah itulah yang bathil (Itulah yang salah)!”. (Qs Luqman: 30).
Dengan diartikannya lafadz ilah (Tuhan) menjadi al-ma’buud (Yang disembah), maka jelaslah kekeliruan kebanyakan orang Islam yang berkeyakinan bahwa Allah ada di mana-mana dan mengingkari ketinggian-Nya di atas ‘Arsy dengan memakai dalil ayaat berikut, yang artinya: “Dan Dialah Tuhan di langit dan Tuhan di bumi!”. (Qs Az-Zukhruf: 84).
Sekiranya mereka memahami arti ilah dengan benar, niscaya mereka tidak memakai dalil ayaat tersebut. Yang benar, seperti yang telah diterangkan di atas, Ilah itu artinya adalah Ma’buud sehingga ayaat itu artinya menjadi: “Dan Dialah Tuhan (yang disembah) di langit dan Tuhan (yang disembah) di bumi!”.
- Contoh ketiga!: 
Pentingnya mengetahui gramatika bahasa Arab untuk supaya bisa menafsirkan ayaat dengan benar, ialah mengetahui ungkapan kata akhir tapi didahulukan, dan kata depan tapi ditaruh di akhir kalimah. Sebagai contoh: “Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in!” artinya: “Hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu pula kami memohon pertolongan!”. (Qs Al-Fatihah: 5).
Didahulukannya kata ‘iyyaaka’ atas kata kerja ‘na’budu’ dan kata ‘nasta’in’, ialah untuk pembatas dan pengkhususan, maka maksudnya menjadi ‘Laa na’budu illaa iyyaaka walaa nasta’iinu illaa bika yaa Allaah, wanakhusshuka bil ‘ibaadah wal isti’aanah wahdaka. (Kami tidak menyembah siapapun kecuali hanya kepada-Mu. Kami tidak mohon pertolongan kecuali hanya kepada-Mu, ya Allah. Dan hanya kepada-Mu saja kami beribadah serta memohon pertolongan!)’ . 
.
.
PAHAMILAH NASH ALQUR’AN DENGAN ASBABUN NUZUL! 
.

AL-QUR'AN KARIM!
AL-QUR’AN KARIM!
AL-MU'JAM AL-KABIR!
AL-MU’JAM AL-KABIR!
Mengetahui as-sababun nuzul (peristiwa yang melatari turunnya ayaat Al-Qur’an) sangat membantu sekali dalam memahami Alqur’an dengan benar.
Sebagai contoh, ayaat yang artinya!: 
“Katakanlah: ‘Panggillah mereka yang kamu anggap sebagai (Tuhan) selain Allah, mereka tidak akan memiliki kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula memindahkannya. Orang-orang yang mereka seru itu juga mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya, serta takut akan azab-Nya. Karena azab Tuhan-mu itu sesuatu yang mesti ditakuti!’”. 
(Qs Al-Isra’: 56-57).
Ibnu Mas’ud berkata: “Segolongan manusia ada yang menyembah segolongan jin, lantas sekelompok jin itu masuk Islam. Karena yang lain tetap bersikukuh dengan peribadatannya, maka turunlah ayaat: ‘Orang-orang yang mereka seru itu juga mencari jalan kepada Tuhan mereka’.” (Muttafaq ‘Alaih)!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar