Pages

Selasa, 29 Januari 2013

MENGEVALUASI PEMERANAN TOKOH DALAM PEMENTASAN DRAMA (Crismona -07)


A.   MENGEVALUASI PEMERANAN TOKOH DALAM PEMENTASAN DRAMA

Memahami drama berarti memahami jalan cerita beserta penokohannya khususnya dalam perwatakan.
Mengevaluasi pemeran tokoh berarti memberikan apresiasi dan penilaian mengenai pemeranan.
Evaluasi terhadap pemeranan berkaitan dengan karakter, penjiwaan, ekspresi, suara, dan kemampuan aktingnya.
Perilaku tokoh berkaitan dengan perwatakannya, watak tokoh harus konsisten dari awal hingga akhir. Penokohan harus memilkiwatak atau karakter yang kuat dan kontradiktif satu sama lain.
Watak para tokoh digambarkan dalam tiga dimensi ;  keadaan fisik, psikis, dan sosiologi.



Contoh naskah drama :
Fragmen Abunawas

            Abunawas, maharaja dari negeri Antahberatah yang sangat dikasih dan dihormati rakyatnya mempunyai seorang putra, Abundari namanya. Pangeran adalah putra mahkota kerajaan. Pada suatu hari pangeran datang menghadap baginda.
Abundari        : Ayahanda Baginda Raja, selama putramu yang bodoh ini menantikan saat mengantikan Ayahanda Baginda, apa yang harus hamba lakukan untuk mempersiapkan diri?
Abunawas       : Anakku Pangeran, seorang raja harus dihormati dan disayangi oleh rakyatnya kalau tidak maka tiada gunanya ia menjadi raja. Maka itu jagalah dirimu baik-baik, jangan melakukan apa-apa supaya kau tetap bersih dan ternoda sampai saatnya nanti kau menggantikanku.
           Baginda sehat sekali dan panjang umurnya. Dua puluh lima tahun kemudian beliau meninggal dalam usia yang lanjut dan digantikan oleh putra mahkotanya, Abundari.
Abundari        : Terima kasih Tuhan. Ini hari adalah hari dimana aku resmi menjadi maharaja, resmi menggantikan ayahanda. Ayahanda semoga tenang di alam sana.

             Baginda raja yang baru ini sejak semula tidak pernah tahu dan tidak pernah mau tahu sama sekali bagaimana memerintah negrinya, karena terlalu lama berdiam diri. Terlalu asyik dengan dirinya sendiri sehingga lupa kalau ia harus mulai mempersiapkan diri untuk memerintah sebuah negeri tanpa didampingi lagi oleh ayahanya.
Abundari        : Mahapatih, tolong siapkan semua keperluanku. Besok pagi-pagi sekali aku akan berlibur ke negeri Syam dengan permaisuri untuk beberapa bulan. Kabarnya pantai disana begitu indah. Nanti semua urusan negeri ini akan kuserahkan sepenuhnya padamu.
Mahapatih      : Daulat Baginda. Tapi apakah tidak terlau cepat rencan baginda untuk berlibur ke negeri Syam. Bukankah baru saja beberapa hari Baginda duduk disinggahsana ini.
Abundari        : Paman Patih. Yang jadi raja itu aku bukannya dirimu. Jadi, yang berhak menentukan ini dan itu juga aku bukannya dirimu. Mengerti !
Mahapatih      : Ampun Baginda, maafkan kelancangan hamba. Hamba hanya bermaksud memperingatkan Paduka. Tidak ada maksud lainya, Baginda. Sekali lagi maaf Baginda  kalau perkataan saya kurang berkenan di hati Baginda.
Abundari        : Sudah sudah aku tidak mau lagi dengar alasan. Yang jelas semua perlengkapan dan pengawalsudah siap untuk keperluanku berlibur ke negeri Syam.
Mahapatih      : Daulat Baginda, semua siap di laksanakan.
Abundari        : Oh.. ya, sebelum aku pergi berlibur ada beberapa hal yang kusampaikan pada mentri. Hari ini aku umumkan untuk diketahui oleh rakyatseluruh negara bahwa inflasi dalam negeri mulai saat ini sudah berakhir.
              Praktis kejadian ini membuat para abdi dalem kerajaan saling pandang, tidak paham mengapa rajanya mengeluarkan pengumumkan seperti itu.
Belum genap setahun Abundari menjadi maharaja, kerajaan di ambil alih oleh seorang pangeran dari istri ketiga almarhum Baginda.

Sebagai seorang tokoh dalam pementasan drama harus memperhatikan aspek-aspek pemeranan.
Contoh penerapan aspek-aspek terhadap naskah Fragmen Abunawas, 
sebagai berikut         :

v  PELAFALAN, aspek ini menekankan kejelasan lafal atau ucapan-ucapan dialog.  Contoh : kata ayahanda harus secara jelas jangan sampai diucapkan menjadi ayaanda.
v  INTONASI, intonasi berkaitan dengan nada dialog, penekana dialog terhadap kata-kata yang dianggap penting dan pembedaannada bentuk dialog tanya, seruan, perintah pemohonan dan sebagainya. Contoh : Paman Patih dengan nada tinggi sebagai ungkapan kesal, marah.
v  MIMIK, aspek ini berkaitan dengan ekspresi raut muka yang menampilkan karakter. Contoh : Ampun Baginda dengan ekspresi wajah takut, hormat, dan meohon maaf.
v  KINESIK, aspek ini menekankan pada dialog yang berupa bisikan. Aspek ini dapat di terapkan pada ungkapan narator.
v  PENGHAYATAN, aspek ini meliputi kedalaman pemaknaan terhadap isi dialog, karakter tokoh,dan karakter keadaan atau situasi (susah, senang dan sebagainya)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar