Pages

Rabu, 16 Januari 2013

Keutamaan Malam Seribu Bulan(Danang-08)

Malam Lailatul Qadar adalah malam yang dimuliakan Allah l. Allah k menamainya dengan Lailatul Qadar, menurut sebagian pendapat, karena pada malam itu Allah l menakdirkan ajal, rezeki, dan apa yang terjadi selama satu tahun dari aturan-aturan Allah l. Hal ini sebagaimana Allah  l firmankan:
“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.” (ad-Dukhan: 4)
Di dalam ayat tersebut Allah l menamai Lailatul Qadar karena sebab tersebut. Menurut pendapat lain, disebut malam Lailatul Qadar karena malam tersebut memiliki kedudukan yang tinggi di sisi Allah l. Allah l menyebutnya sebagai malam yang berkah, sebagaimana firman-Nya:
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.” (ad-Dukhan: 3)
Allah l juga memuliakan malam ini dalam firman-Nya:
“Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (al-Qadr: 2-3)
Maksudnya, amalan di malam yang berkah ini menyamai pahala amal seribu bulan yang padanya tidak terdapat Lailatul Qadar. Seribu bulan sama dengan 83 tahun lebih. Ini menunjukkan keutamaan malam yang besar ini. Oleh karenanya, Nabi n berusaha mencari malam Lailatul Qadar. Beliau n bersabda:
“Barang siapa shalat di malam Lailatul Qadar karena keimanan dan mengharapkan pahala, maka dia akan diampuni dosanya yang telah lampau ataupun yang akan datang.”
Allah l juga mengabarkan bahwa pada malam itu malaikat dan Jibril turun. Ini menunjukkan betapa besar dan pentingnya malam ini karena turunnya malaikat tidak terjadi kecuali untuk perkara yang besar. Kemudian Allah l menyifati malam itu dengan firman-Nya:
“Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.” (al-Qadr: 5)
Allah l menyifati malam tersebut dengan malam keselamatan. Ini menunjukkan kemuliaan, kebaikan, dan keberkahannya. Orang yang terhalangi dari kebaikan malam itu berarti terhalangi dari kebaikan yang sangat banyak. Inilah keutamaan-keutamaan yang besar pada malam berkah ini.
Namun, Allah l menyembunyikannya di bulan Ramadhan agar seorang muslim bersungguh-sungguh mencarinya. Sehingga amalnya semakin banyak dan dengan itu ia menggabungkan antara banyaknya amal di seluruh malam Ramadhan serta bertepatan dengan malam Lailatul Qadar dengan segala keutamaan, kemuliaan, dan pahalanya. Sehingga dengan itu ia mengumpulkan antara dua kebaikan. Ini merupakan karunia Allah l atas hamba-hamba-Nya.
Ringkasnya, bahwa Lailatul Qadar adalah malam yang besar (agung) dan berkah. Juga merupakan nikmat dari Allah l yang mendatangi seorang muslim di bulan Ramadhan. Jika dia diberi taufik untuk memanfaatkannya dalam kebaikan, ia akan mendapatkan pahala yang besar dan kebaikan yang banyak yang sangat dia butuhkan. (penjelasan asy-Syaikh Shalih Fauzan dalam Fatawa Ramadhan, 2/847—849)
Kapan Malam Lailatul Qadar Itu?
Terdapat riwayat dari Nabi n bahwa malam Lailatul Qadar bisa terjadi pada malam ke-21, ke-23, ke-25, ke-27, atau malam ke-29, dan akhir malam bulan Ramadhan.
Al-Imam asy-Syafi’i t berkata, “Ini menurut saya, wallahu a’lam, karena Nabi n menjawab sesuai dengan pertanyaannya. Pendapat yang paling kuat bahwa itu terjadi pada malam-malam yang ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, berdasarkan hadits dari ‘Aisyah x bahwa Nabi n beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, dan beliau mengatakan, “Carilah Lailatul Qadar pada malam ganjil dari sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan’.” (HR. al-Bukhari dan Muslim, lihat Shifat Shaum an-Nabi hlm. 87)
Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar
Dari Ubai z, ia berkata, Rasulullah n bersabda:
“Pagi hari setelah malam Lailatul Qadar, matahari terbit tanpa sinar seperti bejana dari tembaga hingga tinggi.” (HR. Muslim)
Dari Ibnu ‘Abbas c, ia mengatakan bahwa Rasulullah n bersabda:
“Lailatul Qadar adalah malam yang tenang, cerah, tidak panas dan tidak dingin, matahari terbit di pagi harinya lemah dan berwarna merah.” (HR. ath-Thayalisi, Ibnu Khuzaimah, dan al-Bazzar, sanad

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar